:::: MENU ::::

Wednesday, May 2, 2018



Oke langsung aja lanjut lagi ceritanya.

Ketika selesai mendapatkan genre "Komedi" dan pembagian jobdesk sudah fix, kini giliran saya dan teman-teman Produser lain menentukan giliran shooting.
Dalam angkatan saya, dosen membuat 4 kelompok yang berbeda-beda genre.

Ada Komedi, Horror, Thriller dan Action.



Satu kelompok terdiri dari 15 anggota.
Dan boleh ditambah sekitar 5 orang helper (tenaga tambahan) yang bisa diambil dari adik tingkat kita satu jurusan. Gunanya sih, untuk mengenalkan mata kuliah praktikum ini terhadap adik tingkat dan agar si adik tingkat ini punya gambaran terhadap Praktika Terpadu.
Memang sudah jadi tradisi di Program Studi Televisi dan Film ini.

Otomatis, ada 4 Produser dalam angkatan saya kali ini.
Dan lucunya, tanpa sengaja teman-teman Produser yang lain adalah mantan satu tim saya di Praktika Terpadu semester 5, GRADASI.
Otomatis, teman-teman saya sesama Produser sudah mengetahui model kinerja masing-masing dan kami sudah punya chemistry. Bekerja dengan sesama Produser lain yang beda kelompok terasa lebih mudah dan bersahabat karena semester lalu, kami semua satu tim.

Saya dengan produser lain mulai menentukan tanggal produksi kami.
Kenapa harus bergantian?
Karena alat yang kami gunakan adalah alat-alat kampus, yang otomatis, kalau mau pakai, harus ganti-gantian.

Sebelum mulai menentukan tanggal, kami semua sepakat harus melakukan produksi sebelum puasa.
Sebenarnya, untuk melakukan produksi di hari puasa bagi crew tidak masalah.
Hanya saja, terbayang di kepala kami apabila talent kami tidak sanggup berakting di bulan puasa.
Apalagi semisal yang kedapatan genre Action.
Masa puasa-puasa melakukan adegan laga di tengah hari bolong?
Bisa-bisa semaput di lapangan.

Cara menentukannya dibuat mudah saja, awalnya kami melakukan hitung mundur dari bulan puasa.

Giliran Pertama mulai tanggal 19 Mei s/d 25 April.
Giliran Kedua mulai tanggal 26 April s/d 2 Mei.
Giliran Ketiga mulai tanggal 3 Mei s/d 9 Mei.
Giliran Keempat mulai tanggal 10 Mei s/d 16 Mei.

Kemudian kami membuat gulungan kertas berisi nomer urut.
Ya seperti biasa, kami mengocok kertas-kertas itu dan melakukan hompimpa, dilanjut suit untuk 2 orang terakhir.

Pas semua mendapatkan kertas giliran masing-masing, kami membuka kertas secara bersamaan.
Dan BOOM!
Saya dapat urutan ke 2.

Secara pribadi, saya puas mendapat urutan kedua. 
Tidak terlalu cepat dan juga tidak begitu lama. Semua seimbang dan saya suka tanggalnya.
Dengan urutan produksi sudah ditangan, saya semakin gencar mempersiapkan produksi tim ini.

Hari pertama jadi Produser, saya harus memimpin rapat tiap kali ada rapat.
Rapat kelompok ini biasanya berlangsung dari jam 8 malam. 
Kenapa harus malam-malam? Karena biasanya, dari pagi sampai sore semua tim sibuk kuliah, dan jam kuliahnya beda-beda. Jadi ketimbang rapat ga full team, akhirnya saya memutuskan jam rapat sekitar jam 8 malam di kampus. Rapat diadakan 2 kali seminggu agar persiapan matang.

Hal-hal yang dibahas pada saat rapat biasanya berurutan.
Mulai dari penentuan ide cerita, penyusunan naskah (yang kemudian direalisasikan oleh penulis naskah), penentuan lokasi, sistem iuran, nominal iuran dan denda.

Oiya lupa diceritakan, seluruh dana yang kita pakai untuk pembuatan short movie ini berasal dari iuran tiap mahasiswa loh.
Awalnya, saya ngasih target 500 ribu dulu untuk iuran pertama.
Tapi ternyata, ketika naskah selesai dan mulai membahas lokasi serta kebutuhan apa saja yang harus keluar, saya berubah pikiran, sehingga iuran tiap anak 700 ribu. 

Memimpin rapat di kelompok ini awalnya saya merasa sangat kesulitan.
Banyak anggota kelompok yang sulit sekali untuk disiplin waktu. Rapat yang harusnya bisa dimulai jam 8 malam pas, bisa-bisa mundur jadi jam 9 atau malah jam 10.

Untuk meredam kebiasaan jam karet tersebut, saya mendirikan peraturan kelompok.
Peraturan ini berasal dari jam telat.
Kira-kira begini lah peraturan kelompok saya =
1. Telat, di denda 500 perak per menit
2. Izin tidak ikut rapat, denda 5.000
3. Tidak ikut rapat tanpa izin, denda 50.000

Uang-uang ini, nantinya akan dipakai untuk kebutuhan tunjangan selama produksi ataupun selama rehearsal.
Hasilnya lumayan sih, semisal ada yang telat 10 menit, otomatis 10 x 500 = 5.000

Meski yah, tetap sih, namanya juga anak kos, untuk denda 500 perak per menit, anak-anak minta diadakan batas maksimal. Alasannya, karena anak kos duitnya masih seret. Maka saya buat batas maksimal denda nya 15.000. Jadi semisal dia sudah telat 1 jam, tetap maksimalnya saya denda 15.000.

Di dirikannya peraturan ini tidak serta merta merubah sikap anak-anak yang doyan jam karet sih, beberapa malah ada yang cuek saja meski sudah kena denda 15.000 tiap kali telat rapat.
Tapi ya setidaknya, meski dia telat, ada pemasukan hehe.

Pada saat rapat, saya juga sempat kesulitan menghadapi anak-anak yang tidak bisa berhenti bicara. Ada saja yang bicara padahal ada yang sedang laporan perkembangan divisi.
Saya berulang kali mengingatkan secara tegas untuk diam, ada yang langsung diam, ada juga yang cuek saja. Kadang saya seperti menghadapi belut yang sulit sekali dikendalikan.

Di kelompok saya juga ada beberapa orang yang menurut pengamatan saya sama sekali tidak  bisa bekerjasama. Orang itu tidak merangkul teman satu tim dan bergerak semaunya sendiri.
Saya tidak usah sebut namanya sih, tapi, dengan tegas, pada saat rapat, saya menegur anak tersebut secara gamblang dan blak-blakan.

Saya menegur dan mengutarakan kekecewaan serta keresahan saya terhadap kesuksesan film ini.
Saya bukannya cari musuh, tapi bagi saya, sebagai Produser, saya berkewajiban meluruskan anak-anak yang menurut saya menjadi beban kelompok.

Dan hasilnya alhamdulillah anak itu tersadar dan dia berbalik menjadi bisa diandalkan.
Dia mau bekerjasama, mau merangkul teman satu tim dan bekerja menyesuaikan tempo nya dengan tempo kelompok.
Di dalam hati, saya senang dia mau bekerja sama dan merubah diri.

Sebagai Produser, saya menemui banyak kendala ketika ada anggota yang tidak terima dirinya terkena denda. Saya diprotes sebagai Produser yang kelewat kejam dan tidak berbelas kasih, tapi sebagai pemimpin kelompok, saya hanya berucap bahwa saya hanya menjalankan kesepakattan kelompok.

Berkat kegigihan saya, peraturan tetap berjalan.
Meski yaaaah......dengan sedikit mendengar nesu-nesu dari mereka.

Sebagai Produser, saya berkewajiban membuat Working Schedule.
Isinya tentang jadwal saya mulai dari pra produksi, sampai pasca produksi.
Susunannya terdiri dari 4 bulan. Bulan Maret, April, Mei sampai Juni.

Dan hanya berdasarkan Working Schedule ini, saya berusaha mengikat tim ini menjadi satu agar tetap berjalan sesuai dengan jadwal.

Setelah rapat ke 3, saya memutuskan untuk survei lokasi.

Setting cerita kami berpusat di daerah pedesaan Jember.
Saya, yang aslinya masih buta soal daerah pedesaan Jember (padahal sudah 3 tahun hidup di Jember), meminta masukan dari teman satu tim saya yang asli orang Jember. Dan teman saya mengatakan untuk mencoba survei di wilayah Ambulu. Kebetulan di daerah tersebut adalah rumah Nenek nya teman saya ini.

Dengan cepat, saya setuju untuk melakukan survei disana.

Sebelum lebih jauh lihat-lihat keadaan disana, saya akan berhenti disini dan menjelaskan tentang apa itu Ambulu dan dimana persis letaknya.

Ambulu adalah nama salah satu Kecamatan di Kota Jember.
Letaknya dekat dengan laut dan banyak pantai yang mengelilingi Kecamatan ini. Yang paling terkenal itu Pantai Watu Ulo dan juga Pantai Papuma.
Denger kata pantai, pasti kalian membayangkan bakalan seru-seruan disana kan?
Pada kenyataannya, ga sama sekali wkwk.
Seru sih, tapi berhubung ini sedang garap tugas jadi ya seru nya ga begitu terasa.

Di Ambulu ini cuacanya luar biasa panas.
Ya maklum sih namanya juga deket laut.
Panas pooollll sehingga kalian bingung harus gimana disana.
Pakai Jaket, biar ga item, tapi gerahnya luar biasa. 
Ga pakai jaket, panasnya langsung ke kulit.
Pakai lotion, sunblock tetep tembus.

Jarak Kota Jember ke Kecamatan Ambulu itu kurang lebih 30 kilometer.
Kami pergi jam 7 pagi dari kampus dan sampai di Ambulu jam 9 pagi.

Kesasar Tengah Jalan
Untung Ditemukan

Di Ambulu, saya memasuki Desa tempat tinggal Nenek nya teman saya.
Nama Desa nya Desa Sumberejo.

Plang Selamat Datang Di Desa Sumberjo

Sesampainya di Desa Sumberejo, ternyata perjalan masih berlanjut lagi sedikit melewati pematang sawah yang jalannya agak sedikit ambruradul. Disitu kami semua kayak di panggang.
Panas poollll.

Bayangin, udah letaknya di Provinsi Jawa Timur, trus di Kecamatan yang deket pantai, di tengah sawah pula. Mata sampai pedih sangking kelamaannya menyipit karena kepanasan. Segitu kami udah pakai helm udah pakai masker, jaket sama sarung tangan.

Ternyata kami bukan benar-benar ada di Desa Sumberejo, melainkan masuk lagi ke sebuah Dusun bernama Dusun Sidomulyo.

For Your Information, inilah pertama kalinya saya masuk ke sebuah Dusun.

Oke, Dusun ini cukup unik. Saya akan berhenti sebentar disini untuk menceritakan apa yang buat Dusun ini menarik

Dusun Sidomulyo ini hidup berdampingan dengan 4 dusun disekelilingnya yang mayoritas muslim.
Di sebelah Utara, berbatasan dengan Dusun Jatirejo.
Di sebelah Timur, berbatasan dengan Dusun Brego.
Di sebelah Barat, berbatasan dengan Dusun Pumo.
Dan di Selatan berbatasan dengan Dusun Sumberejo.

Jadi, Dusun Sidomulyo ini, mayoritas penduduknya beragama Kristen.
Teman saya yang nenek nya disini juga beragama Kristen. Jadi satu dusun ini memang mayoritasnya Kristen.
Di Dusun ini banyak sekali anjing-anjing berkeliaran.
Di setiap rumah, ada aja anjingnya. Dan anjingnya ya jenis anjing kampung gitu.
Dan ga cuma satu anjing, tapi bisa sampai dua tiga anjing.
Anjing-anjing di Dusun Sidomulyo ini bukan dikandangin loh ya.
Ya berkeliaran aja gitu dimana-mana. Semisal lagi jalan trus papasan ama doggy, ya udah biasa di Dusun Sidomulyo ini. Ya kurang lebih kayak suasana di Bali lah.

Kenapa banyak anjing? setelah banyak mengobrol dengan warga dan juga Pak Kepala Dusun, Pak Eko, ternyata kehadiran anjing-anjing ini juga sebagai sistem keamanan di Dusun ini. 

Keadaaan dusun ini sangat tenang dan harmonis menurut saya.
Di Dusun ini juga susah sinyal. Luar biasa sulitnya. Bahkan cuma sinyal telk*msel aja yang nyampe dusun ini, sisa nya enggak. Itu pun kadang kalo lagi jelek, suka ga masuk juga sinyal telk*msel.

Oke, karena tujuan kami ke Dusun Sidomulyo adalah untuk survei, saya dan teman-teman satu tim langsung berkeliling mencari hal-hal kebutuhan produksi.
Mulai dari apakah ada rumah kosong.
Rumah yang hendak dijadikan lokasi shooting.
Beli makan dimana dan sebagainya.

Dan JENG JENG JENG!

Lokasi Di Dusun Sidomulyo itu sangat ideal sekali untuk tempat shooting kami.

Di hari yang sama, kami langsung mendapatkan rumah yang cocok untuk lokasi shooting kami.
Rumah itu adalah milik Bapak Purwo Tanoyo (atau Bapak Tan/Mbah Tan) yang ternyata adalah Mbah Kakung nya teman saya.

Rumah Mbah Tan
Rumah Yang Dijadikan Lokasi Shooting

Disebelah rumah Mbah Tan, ada rumah kosong yang sudah 1 tahun tidak ditempati, milik anak Mbah Tan yang sekarang bekerja di Bali. Setelah sreg dan izin, kami mantap menjadikan rumah kosong itu sebagai Basecamp. Basecamp adalah tempat kami tidur dan menaruh alat-alat produksi. 
Ya begini lah penampakannya :

Penampakan Rumah Basecamp + Rumah Mbah Tan (Rumah Shooting)
Dan beberapa crew yang tidak sengaja terfoto

Rumah Basecamp
Sebelah rumah Mbah Tan


Disaat yang bersamaan, kami juga butuh setting sekolahan. Dan di Dusun Sidomulyo ini ada satu sekolah yang jaraknya bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari Basecamp. Kami langsung memutuskan memakai sekolah tersebut sebagai setting sekolah pada film kami.

SDN 02 Ambulu, Jember
SMP 03 Ambulu, Jember
Kami juga butuh setting lapangan untuk salah satu adegan pada film ini. Nah kebetulan dapet lapangan agak jauh justru. Masih Desa Sumberejo sih, tapi sudah masuk Dusun Brego. Yah begini penampakannya :

Lapangan di Dusun Brego, Desa Sumberejo, Ambulu, Jember

Kami juga butuh setting sawah. Kebetulan banyak banget sawah disana yang bisa dimanfaatkan. Dan setelah dapat ijinnya, akhirnya lokasi fix ditetapkan. Ya begini penampakannya :

Penampakan Sawah + D.O.P yang lagi narsis

Untuk urusan konsumsi, teman saya yang rumah nenek nya di Ambulu itu ternyata punya Bude yang biasa mengurus konsumsi untuk acara-acara di Gereja. Langsung saja, saya meminta bantuan bude-nya teman saya untuk masalah konsumsi rehearsal dan produksi.

Sebagai Produser di kelompok, saya bertanggung jawab untuk nembusin izin-izin tempat yang nantinya akan dipakai untuk shooting. Akhirnya, saya dan crew yang perempuan berangkat lagi ke Ambulu tanpa tim teknis (crew kami yang cowok-cowok).

Kami disana bagi job.
Ada yang mengurusi talent, ada yang mengurusi artistik dan ada yang mengurus perijinan tempat.

Kami berangkat jam 7 pagi dan jam 10 pagi, semua urusan selesai.
Karena jam 11 siang itu panasnya sudah pol-polan, akhirnya kami beristirahat di teras rumah Mbah Ruci, rumah Mbah Putri teman saya yang rumah neneknya di Ambulu.

Sesuai pengamatan saya, ketika jam 12 siang, jalanan luar biasa panas dan rasanya saya mendadak jadi vampir. Alergi sinar matahari.

Sekumpulan cewek-cewek yang hobi kerja pagi-pagi
sedang istirahat di rumah Mbah Ruci, Mbah Putri Teman saya yang
rumahnya di Ambulu.

0 komentar:

Post a Comment

A call-to-action text Contact us