:::: MENU ::::

Tuesday, December 1, 2020



Jika kamu adalah penggemar kpop atau setidaknya mengetahui segelintir tentang dunia kpop, kamu pasti mengetahui bagaimana efek jika idol atau juga artis Korea terkena suatu kasus dibanding jika artis-artis Indonesia terkena kasus. Jika artis Indonesia terkena kasus, biasanya karir artis tersebut tidak langsung hancur. Biasanya, artis tersebut hanya akan meredup selama beberapa saat kemudian kembali bisa berkarir kembali di layar kaca maupun layar perak. Sedangkan di Korea, jika seorang artis atau idol terkena kasus, maka karirnya akan sulit kembali seperti semula atau bahkan menghilang. Mengapa Demikian?

 

1.      Publik


Publik Korea dan publik Indonesia memiliki cara pandang yang berbeda terhadap idol atau artis. Jika di Indonesia, publik termasuk netizen yang cukup santai menghadapi kasus seorang artis. Publik Indonesia biasanya hanya akan mengulik suatu kasus yang membuatnya tertarik, namun apakah perilaku itu akan berubah menjadi “suka” atau “tidak suka” biasanya bergantung dari seberapa parah kasus yang sedang menimpa si artis. Jika sang artis dirasa publik Indonesia memiliki pengaruh yang buruk, publik Indonesia cenderung hanya melewatkan segala konten yang berkaitan dengan si artis sehingga si artis akan kehilangan pamor. Namun, jika dirasa kasus si artis bukanlah masalah yang terlalu fatal, sang artis biasanya hanya akan meredup namanya kemudian dapat melejit kembali sewaktu-waktu jika dirasa sudah diterima kembali oleh publik Indonesia. Namun, publik Korea memiliki penilaian yang lebih detail jika artis atau idol terkena sebuah kasus. Publik Korea umumnya menginginkan sesosok publik figure yang dapat menjadi contoh bagi masyarakat bagaimana caranya bersikap. Publik Korea mengiginkan image yang bersih, baik dan sempurna. Bukannya berarti publik Korea tidak mengetahui istilah “tidak ada manusia yang sempurna”, hanya saja sebagai seorang public figure, mencontohkan perilaku yang baik adalah bagian dari pekerjaan sang idol atau artis, sehingga, satu kesalahan saja sudah dapat menghancurkan kepercayaan publik Korea akan kreadibilitas artis tersebut.

 

2.      Brand


 

Hal ini juga berpengaruh dari aspek lain seperti brand dan sponsor. Bila di Indonesia, brand atau sponsor seringkali mencari public figure yang saat ini sedang digandrungi oleh masyarakat, baik karena prestasi ataupun karena kasus. Hal ini digunakan oleh brand Indonesia untuk mengambil perhatian yang saat ini tertuju pada artis tersebut. Jika sang artis memiliki kasus yang sangat menarik perhatian publik, maka apapun yang sang artis itu iklankan pasti akan di lihat juga oleh publik, sehingga tidak jarang artis yang sedang terkena kasus justru kebanjiran tawaran iklan. Namun, apakah semua brand Indonesia seperti itu? Tentu tidak, ada juga beberapa brand yang tidak menginginkan brand nya dipakai oleh artis yang bermasalah karena akan mencoreng nilai jual brand tersebut. Akan tetapi, tidak jarang juga brand yang rela membayar artis yang sedang terkena kasus untuk mencari perhatian pasar. Sedangkan di Korea, baik brand dan sponsor sama-sama menginginkan citra yang baik. Untuk itu, jika seorang artis atau idol memiliki sikap yang baik, track record prestasi yang baik apalagi jika ditunjang wajah yang menarik, maka artis tersebut akan kebanjiran banyak tawaran iklan. Namun ketika sang artis terkena kasus, maka brand tersebut bisa jadi langsung memutuskan kontrak. Hal ini dikarenakan jika publik Korea sudah tidak menyukai artis tersebut, maka bisa jadi publik Korea juga membenci apapun yang artis itu gunakan, sehingga untuk menghindari hal tersebut, brand Korea melakukan pemutusan kontrak.

 

3.      Budaya Masyarakat

Setiap masyarakat pasti memiliki budaya yang berbeda. Termasuk juga budaya bagaimana image “artis” di dalam pikiran. Misalnya saja, pernahkan kamu menyadari mengapa ada begitu banyak acar infotainment di Indonesia? Sedangkan jika dibandingkan dengan Korea, acara infotainment bisa dikatakan tidak ada. Indonesia memiliki kebudayaan untuk mengupas habis segala berita-berita seorang artis mulai dari karir, prestasi hingga kehidupan pribadi sang artis. Entah sejak kapan hal ini sudah menjadi bahan yang biasa di konsumsi publik selama bertahun-tahun. Karena budaya infotainment seperti ini juga, akhirnya publik Indonesia lama kelamaan menyadari bahwa apa yang ditunjukkan seorang artis di depan kamera akan berbeda dengan apa yang terjadi di belakang kamera. Karena hal ini pula akhirnya permintaan publik Indonesia akan image sempurna seorang artis pun menyusut. Publik Indonesia mengerti betul bahwa artis memiliki masalah, perasaan dan sifat yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Hal inilah yang menjadi penyebab bagaimana seorang artis yang bermasalah dapat berkarir kembali karena sudah dimaafkan oleh publik. Positifnya adalah, jika sang artis mau berbenah diri dan benar-benar menjaga perilakunya maka karirnya dapat terselamatkan.

 

Namun jika di Korea, jarang orang Korea yang betul-betul penasaran dengan kehidupan pribadi sang artis. Mereka lebih senang artis tersebut tersenyum di depan kamera, apapun masalah yang mereka hadapi dan berperilaku positif, apapun tekanan yang sedang mereka hadapi. Disatu sisi, sikap ini memang cocok sebagai batasan antara artis dengan publik luar, namun disisi lain seringkali standart ini menjadi tekanan terhadap si artis bagaimana dia harus tersenyum setiap hari terlepas dari apapun masalah yang dia hadapi.

 

4.      Agensi

Agensi artis Indonesia dan Korea juga sangat berbeda. Jika agensi Korea cenderung ketat dengan segala aturan yang wajib dijalani oleh sang artis, maka di Indonesia artis memiliki beberapa hak yang tidak di miliki oleh artis Korea. Contohnya saja penggunaan social media. Jika artis Indonesia rata-rata memiliki social media tersendiri dan bebas memposting apa saja, maka berbeda dengan di Korea. Bisa-bisa akun instagram yang mereka miliki tidak di posting oleh sang artis melainkan managementnya. Contoh lainnya adalah artis Indonesia bebas berkreasi seperti boleh membuka channel youtube sendiri, banting setir menjadi influencer instagram atau boleh memiliki usaha bisnis sendiri. Sedangkan di Korea, membuka channel youtube ataupun bisnis sendiri harus bernegosiasi dengan agensi mereka terlebih dahulu, apakah mendapat ijin atau tidak, apakah mengganggu karir mereka atau tidak dan sebagainya.

 

5.      Usia Karir

Salah satu hal paling menonjol dari perbedaan karir artis Indonesia dan Korea adalah usia karir. Jika di Indonesia, artis-artis cenderung bisa aktif berkarir mulai dari usia tujuh belas tahun hingga empat puluh tahun. Sedangkan di Korea, usia muda adalah usia yang sangat di minati. Hal inilah yang membuat artis Korea banyak yang mati-matian untuk karir mereka, karena mereka tahu usia karir mereka memiliki batas. Katakanlah jika seorang idol Korea telah mencapai usia dua puluh tujuh keatas, akan sulit bagi mereka untuk bersaing jika sebelumnya tidak memiliki track record prestasi yang baik. Hal ini dikarenakan banyaknya pesaing mereka yang muncul dengan usia muda, talenta yang berbeda dan image yang masih “fresh”. Sedangkan di Indonesia, bisa dibilang justru seperti anggur, semakin tua usia karirnya maka semakin mudah ia mencari brand atau sponsor. Hal ini dikarenakan publik Indonesia sudah terlalu familiar dengan image artis tersebut, sehingga memudahkan brand atau sponsor untuk berpromosi. Sedangkan untuk artis Indonesia yang masih baru, ia harus berjuang dahulu agar namanya semakin dikenal publik dan familiar di mata publik.

Monday, November 30, 2020

 


Banyak orang bilang, ketika memasuki dunia kerja, kamu tidak akan menemukan teman sebagaimana kamu temukan semasa sekolah atau kuliah dulu. Apakah itu benar? Yap, benar sekali! Meski tidak menutup kemungkinan kamu tetap bisa mendapatkan teman kerja di lingkungan kantor, akan tetapi ada beberapa hal yang harus kamu ketahui ketika memasuki dunia kerja nih, khususnya bagi kamu yang berstatus Fresh Graduate dan ingin memasuki dunia kerja. Yuk cari tahu disini!

 

1.      Tempat Dengan Tujuan

 

Ketika kamu bekerja, kamu sudah ada di tempat dengan tujuan yang spesifik. Bila dulu saat sekolah, semua sekolah memiliki tujuan yang sama yaitu meluluskan semua murid dengan nilai yang baik. Ketika kamu berada di kampus, kampus memiliki tujuan yang sama yaitu berhasil menjadi lembaga pendidikan yang mengeluarkan lulusan terbaik. Lalu ketika di tempat kerja? Apa tujuannya? Nah, ketika berada di tempat kerja, tujuan tempat kerjamu tentu akan berbeda dengan tempat kerja di tempat lain. Misalnya saja, kamu berhasil diterima kerja di perusahaan start up dan dibandingkan bila kamu berhasil diterima kerja di perusahaan besar yang sudah memiliki nama. Kedua perusahaan ini akan memiliki tujuan yang berbeda. Perusahaan startup mungkin saja memiliki tujuan untuk meningkatkan brand awareness kepada customer sekaligus menekan penjualan. Sedangkan untuk perusahaan besar mungkin saja memiliki tujuan untuk menjadikan brand nya masuk Top 10 Brand tahun ini atau ingin melebarkan sayap perusahaannya dengan bekerja sama dengan perusahaan lain.

 

Apapun tujuan tujuan tempat kamu bekerja, kamu akan bertemu dengan orang-orang baru dengan latar belakang yang berbeda-beda. Pada saat duduk di bangku kuliah mungkin kamu bangga menjadi mahasiswa Informatika, akan tetapi ketika bekerja, kamu juga harus tahu apa yang dilakukan orang-orang yang berkeja sama satu tim denganmu. Kamu harus tahu apa tujuan perusahaan kamu dan bekerja sama dengan orang-orang tersebut untuk meraih tujuan perusahaan tersebut. Ingat ya, bukan tujuanmu sendiri, melainkan tujuan perusahaan. Singkirkan dulu idealisme mu dan coba bekerja sama dengan baik dengan rekan-rekan kantormu. Mereka mungkin saja bukan teman-temanmu hangout, tapi memiliki tim yang hebat dalam bekerjasama juga tidak kalah menyenangkannya kok. Jadi, pahami betul apa tujuan perusahaan tempatmu bekerja ya!

 

2.      Ingat Goal Kamu


Ingat segudang keinginan kamu ketika belum bekerja? Ingin membeli gadget baru, ingin menaikkan haji orang tua, ingin membeli rumah, ingin mencicil motor ataupun mobil atau ingin sekalian mengumpulkan modal untuk bisnismu sendiri? Ketika bekerja, jangan semua dibawa perasaan ya, selain akan merepotkanmu sendiri, perasaan juga bisa jadi kabut penghalang kamu untuk mewujudkan keinginanmu. Mungkin teman-teman kantormu tidak terlalu cocok denganmu, akan tetapi, ingat kamu masih memiliki segudang list keinginan yang belum terwujud. Cobalah bertahan sejenak demi terwujudnya keinginanmu. Kamu pasti bisa!

 

3.      Faktor-Faktor Kecil


Ketika masa sekolah atau kuliah, seseorang seringkali mengajakmu berteman karena kamu orang yang supel, asik, mudah bergaul ataupun gaul. Tapi ketika bekerja, hal itu saja tidak cukup loh. Rekan-rekan kerjamu akan menghargai kamu jika kamu bisa melakukan pekerjaan dengan baik ketimbang seberapa serunya kamu diajak bergaul. Bisa saja kamu orang yang kikuk, pemalu, tidak mudah bercanda ataupun tidak begitu gaul, akan tetapi kamu teliti dan dapat mengerjakan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Karena faktor kecil inilah yang akhirnya membuat rekan-rekanmu di kantor jadi menyukaimu dan ingin berteman denganmu lebih jauh. Jadi, jika kamu sudah memiliki bawaan sifat yang seru, jangan lupa mengupgrade kualitas kerjamu juga ya! Dijamin deh rekan-rekan kantor akan langsung asyik bergaul denganmu.

 

4.      Sesuai Porsinya


Sudah bekerja sekian bulan, tapi rasanya kok teman-teman kantor memang tidak bisa cocok denganmu ya? Bercanda tidak nyambung, diajak seru-seruan tidak bisa sedangkan jika terus-terusan bekerja lama kelamaan akan menjadi jenuh. Jika memang kamu mengalami situasi seperti ini, maka lakukan sesuai porsi nya saja. Ketika di kantor, berbicaralah dengan mereka hanya masalah pekerjaan. Lakukan semua sesuai dengan porsinya dan jangan berlebihan. Tidak perlu memaksakan membicarakan hobimu jika memang dirasa tidak bisa “nyambung”. Tidak perlu memaksakan seleramu terhadap selera pembicaraan mereka. Tetap jaga hubungan baik dengan rekan-rekan kerjamu di kantor.

 

5.      Cari Dimana Saja


Jika kamu masih merasa tidak seru dengan rekan-rekan di kantor, jangan khawatir, kamu masih dapat menemukan teman dimana saja. Kamu bisa aktif berkenalan dengan orang-orang baru yang memiliki tujuan yang sama sepertimu dengan mencarinya di social media seperti LinkedIn ataupun instagram. Eits, berkenalan dengan teman online tidaklah seburuk itu kok. Kamu harus berani mencoba berkenalan dengan orang-orang baru agar cakrawala dunia mu tetap luas. Atau, jika senggang, kamu bisa mencoba datang ke festival-festival tertentu yang dapat menambah pengalamanmu. Misalnya saja, pergi ke festival Jepang, ke pameran mobil, ke pameran bazaar buku ataupun gathering seminar. Intinya, jangan menutup dirimu dari orang-orang di luar kantormu ya!

Sunday, October 4, 2020

 Wow udah lama banget kayaknya saya ga nulis di blog ini. 

Yap, ini adalah postingan pertama (dan mungkin juga terakhir) di tahun 2020 ini.


Tahun ini memiliki banyak banget kejadian dan tahun ini bisa diakui sebagai tahun yang sangat melelahkan untuk saya pribadi. Di tahun ini, saya resmi melepas status fresh graduate saya setelah wisuda dan tahun ini adalah tahun pertama kali saya kerja. Tahun dimana saya sudah mulai membiayai hidup saya sendiri, hidup keluarga saya, membayar tagihan dan sebagainya. Tahun ini adalah tahun dimana saya resmi menggantikan posisi ibu saya sebagai tulang punggung keluarga.


Engga, engga, postingan ini ga berisi postingan sedih kok. Meski yah, memang, tahun ini memang tahun yang berat dan penuh dengan emosi. Eits, tapi bukan emosi marah ya, melainkan emosi dengan berbagai rasa heheheh. Mulai dari senang, bahagia, emosi, takut, cemas hingga ketenangan batin. Tahun 2020 ini juga saya merasakan yang namanya "resesi" atau krisis keuangan semasa bekerja. Dulu, waktu tahun 1998, saya masih berusia dua tahun dan ayah ibu saya yang merasakan resesi keuangan. Eh sekarang giliran saya ngerasain resesi hehehe


Blog ini adalah saksi bisu pertumbuhan saya sejak saya usia 17 tahun hingga sekarang 24 tahun. Kalau saya baca-baca ulang, seru juga membaca tulisan-tulisan sendiri. Sekarang saya telah jadi copywriter di salah satu perusahaan percetakan di Indonesia. Mulai dari belum paham apa itu SEO sampai sekarang yang sudah mulai paham lah meski belum ahli-ahli banget heheheh. Tapi, herannya saya masih aja gamau ubah blog ini jadi blog yang SEO oriented. Kenapa? Hmm.....mungkin ini satu-satunya wadah saya untuk bebas menulis apapun pikiran saya ya wkwk.


Sebenarnya, saya cukup frustasi di tahun 2020 ini. Rencana-rencana saya di tahun ini terpaksa harus ditunda mungkin sampai tahun 2021. Padahal, saya sudah merencanakan rencana-rencana saya itu sejak masih masa kuliah di tahun 2018. Tapi yah apa mau dikata, semua orang juga susah, semua orang juga berjibaku di keadaan seperti ini. Saya mau curhat sedikit, sedikit banyaknya saya kangen menulis di blog ini. Kalau ga ada pandemi ini, mungkin sampai sekarang blog ini belum juga tersentuh oleh saya.


Pandemi membuat saya melakukan hal-hal yang biasanya tidak saya lakukan jadi saya lakukan. Rajin cek blog, rajin menulis, rajin cek-cek part time dan sebagainya. Meski berat, memang sih, krisis ini pasti akan kita lewati juga. Jika kamu saat ini sedang stress sama keadaan ini, sama, saya juga kok. Tapi daripada stress, lebih baik coba pikirkan sisi positif dari hadirnya pandemi ini. Biar suasana hati jadi lebih baik :)

A call-to-action text Contact us