:::: MENU ::::

Wednesday, November 20, 2019



Selamat Pagi
Pada postingan kali ini, saya akan membahas pengalaman serta ulasan apakah boleh perusahaan menahan ijazah karyawan.
Perlu di ingat, seluruh postingan pas blog ini biasanya terkait dengan pengalaman dari penulis sendiri jadi ya........semoga dapat diambil pelajarannya ya.


Langsung aja ke pembahasan, cekidot!


Ketika kamu dinyatakan lulus sidang dari kampus dan masih harus menunggu wisuda, tentunya kamu akan mencari-cari kegiatan lain untuk mengisi kegabutan kamu selama menunggu wisuda. Salah satunya adalah mencari kerja.

Jadi, singkat kata, saya ini lagi gabut-gabutnya dan memutuskan untuk cari-cari kerja sambil nunggu wisuda. Berbagai lamaran pun saya kirim. Mulai dari lamaran via email, lamaran pos sampai lamaran melalui aplikasi pencari kerja yang populer di appstore dan playstore.
Berbagai lamaran pun saya kirim, karena masih fresh graduate, saya mencari lowongan yang apa saja, asalkan mau menerima fresh graduate. Syukur-syukur kalau sesuai sama jurusan. Nah, kebetulan, melalui aplikasi pencari kerja, saya menemukan ada lowongan yang cocok dengan program studi saya. Kita sebut saja perusahaan ini bernama PT SS.

PT SS mencantumkan pada lowongannya bahwa mereka  membutuhkan staff sebagai Content Creator. Dari deskripsinya, perusahaan tersebut membutuhkan seseorang yang bisa Photoshop, Premiere, Blogging, mengerti SEO dan dapat membuat artikel atau ulasan yang sifatnya soft sell di website perusahaan mereka. Karena saya yakin bahwa diri saya memenuhi kualifikasi, saya melamar di perusahaan tersebut.

17 September 2019 lalu, dua hari sebelum ulang tahun saya, saya mendapatkan sebuah notifikasi whatsapp dari sebuah nomer. Nomer itu memperkenalkan diri sebagai.........kita sebut saja, Bu Kembang.

Bu Kembang mengaku berasal dari perusahaa PT. SS. Oiya, lupa dijelaskan ya, PT. SS ini lokasinya di Surabaya, Jawa Timur. Melalui pesan whatsapp, Bu Kembang mencantumkan kebutuhan interview seperti disuruh membawa CV, KTP dan Alat Tulis. Bu Kembang juga menuliskan alamat lengkap perusahaan tersebut. Menanggapi hal itu, hal pertama yang saya lakukan adalah googling.

Iya, googling.

Saya googling nama perusahaan tersebut di google. Alasan saya googling perusahaan tersebut adalah ya karena saya ingin tahu lebih dalam tentang perusahaan itu. Seperti mereka bergerak dalam bidang apa, seperti apa gedungnya, lokasi tepatnya dimana dan macam-macam. PT SS ini tidak mencantumkan deskripsi perusahaan mereka lewat aplikasi yang saya gunakan.

Ketika google menampilkan hasil pencarian saya, saya sedikit bingung. Google tidak bisa menemukan data apapun. Tidak ada website, tidak ada akun social media, bahkan penjelasan mereka bergerak dibidang apa juga tidak bisa ditemukan. Yang bisa saya temukan hanyalah alamat dan nomer telfon.

Aneh, menurut saya. Mereka menyatakan butuh seseorang yang bisa menulis ulasan pada website mereka, tapi mereka tidak punya website.
Alhasil, akhirnya saya beralih pada google maps. Iya, kebiasaan saya ketika ada panggilan kerja adalah mengecek lokasinya via google maps. Kenapa? karena melalui google maps, saya bisa melihat betul street view nya, jadi saya ga kagok-kagok amat bila nanti datang ke lokasi.

Dari hasil google maps, perusahaan tersebut gedungnya sudah sangat tidak terawat. Pagarnya sudah banyak karatan, halamannya pun ya begitu saja, tidak asri. Perusahaan PT SS ini ternyata adalah pabrik. Tapi saya tidak tahu pabrik apa dan tidak ada penjelasan di google.

Bila dilihat dari lokasinya, terlihat tidak meyakinkan, tapi dikarenakan tidak ingin membuang kesempatan, saya tetap datang di hari yang ditentukan.

Sampailah saya pada lokasi tersebut. Begitu sampai disana, saya menunjukkan KTP kepada penjaga dan mendaftar nama. Namun, perusahaan tersebut menurut saya tidak siap secara fisik untuk mengadakan wawancara. Mereka punya gedung besar, tapi tidak punya ruangan untuk mempersilahkan orang duduk dengan layak. Padahal, yang di wawancara disitu hanya 4 orang. 4 orang loh, sedikit banget kan?

Kami berempat datang dari jauh. Ada yang dari Trenggalek ada yang dari Malang, dan satu lagi entah darimana tapi sepertinya jauh juga (saya tidak tahu karena saya tidak mengobrol dengan dia). Kami disuruh duduk di dekat pos satpam.

YES, THE REAL POS SATPAM .

Yang bentuknya kotak kecil itu loh.

Pos satpam itu lokasinya di dekat gerbang keluar. Dan kami bukan duduk di dalam pos satpam, tapi di pinggir pos satpam. Ya, ngemper di lantai kayak orang mau arisan.

Begitu tau kondisinya begitu, jujur saya udah mulai rada-rada ga semangat. Ya, logika aja sih. Semisal kamu mencantumkan lowongan di website dan kamu yang menentukan tanggal, jam dan lokasi ketemuan untuk interview, ruang dan kursi adalah hal paling basic yang harusnya ada. Bukan duduk di lantai pinggiran pos satpam, dekat pagar, di sebelah parkiran motor :)

Karena udah terlanjur datang, saya dan ke empat orang lainnya memutuskan menunggu dan sabar. Selama menunggu tersebut, kami mengobrol tentang apa yang ada di pikiran kami terntang perusahaan tersebut. Dan hasilnya? mereka juga menemukan hal yang sama. Kita sama-sama gatau ini perusahaan pabrik yang memproduksi apa, sama-sama gatau perusahaan ini maunya apa dsbnya.

Selama menunggu itu juga, pihak interviewer tidak siap. Kami berempat melewati 4 test. 4 Test oleh orang yang berbeda.
Pertama-tama, kami disuruh isi formulir. Kami isi formulir seperti biasa, data diri, nomer KTP dsb.
Yang kedua, kami ketemu Bu Kembang. Bu Kembang bilang, dia bukan bertugas untuk menginterview kami. Tapi bertugas untuk menjelaskan aturan perusahaan kepada kami. Orang yang menginterview kami nanti ada sendiri, belum datang.

Disitu saya langsung merasa buang-buang waktu. Jika memang harus menjelaskan aturan perusahaan, kenapa tidak digabung saja oleh satu orang? Masa yang hafal aturan perusahaan cuma satu orang? Lagian, kita belom di test. Belom ditanya-tanya punya pengalaman apa dan ngobrol-ngobrol, apalagi diterima, tapi sudah di jelaskan aturan perusahaan di depan. Aneh betul.
Tapi karena saya gamungkin bilang "lah ngapain bu?" akhirnya saya ngangguk-ngangguk aja ketika dikasih tau begitu. Dan disinilah, keraguan saya memuncak.

Bu Kembang bilang untuk bekerja di perusahaan tersebut, sistemnya kontrak. Kontrak selama 3 bulan. Kalau conditee bagus, maka kontrak bisa di perpanjang jadi 6 bulan atau setahun. Sampai sini saya masih bisa terima ya. Bu Kembang juga bilang kalau di perusahaan tersebut, selama bekerja dalam kontrak tersebut kita harus memberikan jaminan kepada perusahaan. Kenapa harus ada jaminan, supaya kita ga aneh-aneh ketika masih dalam masa percobaan.

Dan jaminan itu adalah menyerahkan ijazah asli ke perusahaan.

What?

Menurut saya, ini sama sekali gamasuk akal.

Kalau memang kita masih dalam masa percobaan, ngapain kita harus ngasih jaminan?
Jaminan itu dipakai kalau kita sudah benar-benar dinyatakan diterima, dinyatakan part of team, baru kita ngasih jaminan. Jaminannya ijazah asli lagi. Ini sih lebih merugikan daripada ngasih jaminan duit.

Ditambah lagi, jaminan ijazah itu, dulu ya DULU banget loh, kalau sekarang sih setau saya engga ya. DULU itu diperuntukkan buat buruh pabrik. Kenapa? karena buruh pabrik kan yang berhadapan langsung dengan barang-barang produksi pabrik, jadi, kalau buruh itu ketauan mencuri atau melakukan hal-hal yang kaitannya dengan barang produksi pabrik (yang sifatnya merugikan), maka ijazah mereka bisa ditahan sama pihak pabrik. Jadi kayak semacam kunci untuk menjaga biar ga ada tindak kriminal gitu loh.

Tapi itu DULU. Dan itu untuk buruh.

Lah, saya kan ngelamarnya sebagai Content Creator, saya gabakal berurusan dong sama barang-barang produksi pabrik, trus apa yang mau saya curi? Ngapain disuruh ngasih jaminan?

Bu Kembang lanjutin omongannya lagi. Dia bilang, selama masa percobaan itu, kita kerja dari Senin s/d Sabtu. Dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Dan bila pekerjaannya banyak, maka disarankan lembur. Tapi, kalau lembur, ga dapat uang lembur.
Trus untuk masalah gajian, gajian itu tiap tanggal 3 (apa tanggal 5 ya lupa), tapi apabila tanggal tersebut jatuh di tanggal merah, sabtu-minggu, atau hari lain yang harus libur, maka pengambilan gaji nya di undur sampai ke tanggal masuk lagi.

Mendengar itu, udah semakin aneh sih wkwk

Kita kerja, masa percobaan 3 bulan diawal, dari senin sampai sabtu dan disarankan lembur.
Tapi kalo lembur, gadapet uang lembur.
Trus, sabtu dianggap hari kerja, tapi kalau gajiannya jatuh di hari sabtu, gaji gabisa keluar, karena hari sabtu adalah hari libur.

Jadi gimana si bambang?????

Saya pengen ketawa banget nih tapi untungnya jatohnya cuma senyum aja. Disitu saya mulai lucu dengerin peraturan perusahaannya dan saya iseng tanya-tanya fasilitas di tempat tersebut. Saya kan ngelamar sebagai content creator, otomatis, minimal harusnya sih ada PC yang udah di install aplikasi ngedit ya. Itu minimal banget sih. Saya kemudian tanya apakah di perusahaan tersebut ada PC untuk kerja sebagai content creator yang sudah terinstall aplikasi ngedit dan si Bu Kembang bilang : "Kayaknya ada sih"

Kayaknya..........

Si Bu Kembang kemudian bilang bahwa dia gabisa menjelaskan lebih lanjut selain peraturan perusahaan karena untuk teknis kerjanya, akan lebih lanjut bersama si interviewer kedua bernama sebut aja Pak Kotak.

Akhirnya saya kembali nunggu di emperan Pos Satpam (sedih banget ga sih?) barengan 3 orang lainnya. Mereka juga mengemukakan keberatan yg sama, yaitu ijazah di tahan. Selang 1 jam, akhirnya datang lah nih si Pak Kotak.

Pas saya ketemu sama dia, dia ga pake salam, ga nanya siapa nama saya, ga perkenalan dia siapa tiba-tiba dia langsung bilang "langsung aja ya, mana saya liat sini hasil karya kamu yang pernah kamu buat". Disitu saya langsung mikir "anjir ya ni orang, kalau emang lu gasempet lama-lama trus ngapain ngadain interview?

Dengan ogah-ogahan saya kasih liat hasil karya saya berupa hasil editan saya selama magang, iklan tugas saya selama kuliah yang saya sutradarai, blog pribadi saya juga hasil tulisan saya seperti cerpen atau script short movie. Kemudian dia bilang : "errr..........ini kan banyaknya hasil ngedit kamu ya, yang hasil kamu rekam sendiri mana?"

Saya jawab "ga saya bawa pak, yang saya bawa kan hasil editan aja".
Lah salah ga sih saya? Di deskripsi jobnya dia nyari yang bisa ngedit, bukan bisa ngerekam atau jadi videographer. Trus dia malah jawab "Yah kalau gini sih gimana, kita jadi gabisa proses. Kita butuhnya yang bisa rekam, bukan ngedit-ngedit doang. Iyasih, hasil editan kamu bagus, tapi yang kita butuhkan tuh bukan itu. Lagian, kalo ngedit-ngedit gini aja sih saya juga bisa"

Lah kok kocak? Kok kocak Pak Kotak? Anda nulis deskripsi nya apa di aplikasi buat jobseeker?

Trus saya jawab lagi "Lah pak, di aplikasi yg PT SS cantumin itu nyari yang bisa ngedit pak. Ya saya bawa hasil editan saya, kan sesuai sama yang PT SS minta"
Dia jawab lagi "Iya, tapi yang kita cari bukan itu"
Saya jawab lagi "Lah trus, kan di deskripsi nya PT SS juga minta buat nulis postingan website sama ngerti SEO, ya saya bawa contoh tulisan saya"
Dia malah jawab "Oh, kalo soal itu, kita udah ada. Kita udah punya orang buat nulis postingan di website kita, jadi posisi itu udah full sekarang"

TRUS LU NGAPAIN NYANTUMIN DESKRIPSI NYA KAYAK GITU KOCAK?

Aaanjir lah ni perusahaan bikin saya emosi aja.
Karena udah males ngecover-cover kejengkelan saya lagi, saya frontalin aja "Jadi PT SS nih sebenernya nyari apa sih? Cameraman?" dia jawab "Iya, itu yang sekarang kita butuhkan"

Akhirnya disitu saya jawab "Yah pak, bukan salah saya lah kalo saya bawa hasil editan saya. PT SS nulisnya apa? Kalau emang butuh yang bisa rekam, tulis pak, cameraman atau videographer gitu. PT SS nulis nyari yang bisa ngedit, ya saya bawa hasil editan saya, gimana"

Trus dia malah muter-muter bilang "Iya, tapi kalau kamu bisa nya gini ya terus terang kita gabisa proses"

Dalem hati saya = Ya, gosah di proses dah. Saya juga dah males sama ni perusahaan. Bye

Saya udah jengkel ke ubun-ubun akhirnya langsung pamitan aja. Si Pak Kotak diem aja, saya langsung pamitan sekenanya abis itu pulang sambil bawa jengkel.
Astagfirullah, ngetiknya emosi lagi saya wkwkwk

Inget banget ketika pulang lagi, di bus saya mikir "cobaan macem apa ini di hari ulang tahun malah dapet kek gini" wkwkwk
Tapi ya saya tau, berkat kejadian ini, saya belajar banyak soal aturan Perusahaan Menahan Ijasah.

Sebenernya, apakah boleh perusahaan menahan ijazah pegawai?

Berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan disebutkan, tidak ada aturan yang membolehkan perusahaan menahan surat-surat berharga milik karyawan, termasuk ijazah.

Jadi, kalau perusahaan nekat menahan ijazah pegawainya, berarti melanggar hukum.

Namun, dalam beberapa kasus, tindakan tersebut diperbolehkan. Alasannya karena adanya kesepakatan antara kedua belah pihak. Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam perjanjian kerja yang mengikat karyawan dengan perusahaan dalam hubungan kerja, baik secara lisan maupun tertulis. Yulius Setiarto, konsultan hukum dari Setiarto dan Pangestu Law Firm di Jakarta mengatakan, hak menahan ijazah karyawan sebetulnya lahir dari perjanjian atau kesepakatan kerja bukan peraturan ketenagakerjaan. Kesepakatan antarkedua belah pihak itulah yang membuat kontrak kerja beberapa perusahaan sering kali melanggar hukum bahkan merugikan hak-hak karyawan. 

Menurut Yulius, penahanan ijazah, bukan solusi yang bijak sebagai jaminan kontrak kerja atau cara membuat karyawan bertahan lama di perusahaan. Sebab, hal itu tidak hanya merugikan karyawan, namun juga perusahaan. Bilamana sewaktu-waktu ijazah itu hilang, rusak, dan terkena bencana, maka perusahaan dapat dituntut balik oleh karyawan.

Oleh sebab itu, Yulius mengingatkan, kepada para karyawan agar berhati-hati terhadap kontrak kerja yang berdasarkan kesepakatan bersama, bukan berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan.
Sebab, risikonya jauh lebih besar dan cenderung merugikan karyawan.

RD & GA Manager perusahaan migas PT Benuo Taka Wailawi, Usman Saleh, menuturkan pada prinsipnya perusahaan tidak perlu menahan ijazah karyawannya. Sebab, kontrak kerja sudah cukup menjadi landasan hukum hubungan kerja antara karyawan dan perusahaan.


Nah kalau pembaca apakah punya pengalaman seperti ini?
Yuk sharing pengalaman kamu di kolom komentar

1 comment:

  1. Hai mba Annisa..
    Saya senyum-senyum membaca pengalaman melamar kerjanya, memang bikin jengkel sih ya. Tapi itulah realita dan banyak juga dialami oleh pencari kerja lain. Jangankan yang masih fresh graduate seperti mba Annisa, bahkan yang sudah pengalaman saja kadang masih suka ngalamin hal demikian. Tapi dengan mengalami berbagai pengalaman akan membuat kita lebih waspada dan semakin paham ya.
    Terima kasih sudah berbagi cerita yang menarik.
    Salam kenal ya 🙏🏻

    ReplyDelete

A call-to-action text Contact us