:::: MENU ::::

Sunday, October 22, 2017

Selamat sore.
Di dalam dunia kerja, apapun posisi kamu, pasti lu akan berhadapan dengan yang namanya pihak ketiga atau “klien”.
Dalam bekerja, kita ga kerja sendirian. Berhadapan dengan boss, dengan bawahan, dengan temen sekantor dan lain-lain. Mereka-mereka ini, bisa kamu temui nyaris setiap hari di tempat kerja.
Tapi gimana semisal dengan klien? Yang ketemunya ga sering-sering, tapi kita harus berhadapan dengan self branding yang baik.
Buat kamu yang sedang menjalankan atau akan menjalankan proses ketemu klien, berikut adalah postingan yang perlu untuk kamu baca.


CEKIDOT.


Perlu diketahui, alasan gue nulis postingan ini adalah karena gue pernah melakukan kesalahan ketika SMK dulu. Gue sering berbicara dengan calon talent atau pihak ketiga yang ingin gue ajak kerjasama dengan muka yang judes, jarang senyum dan berbicara apa adanya.
Waktu itu gue berfikir, It would be safe time.
Memang sih, akhirnya, menghemat waktu banget. Tapi? Self branding kita kurang, sehingga justru membuat si klien ini batal bekerjasama dengan kita.

Gue pun sejujurnya sempet kaget karena gue lalai dalam memperhatikan hal penting itu.
Sempet ada ketakutan dalam kembali mejalin hubungan dengan pihak ketiga, tapi akhirnya gue mencoba menjadi orang yang belajar dari kesalahan. Gue pun mencoba kembali dan hasilnya jauuuh lebih baik dari hasil yang sebelumnya.

Aslinya, dalam bertemu klien, lu gabisa menggolongkan klien sebagai orang yang sejenis.
Klien lu itu bermacam-macam orang dengan pola pikir yang berbeda, sifat yang berbeda dan karakter yang berbeda. Tapi pada dasarnya, mereka suka dengan hal-hal berikut.

Yuk langsung aja lanjut baca kebawah biar makin tau.

Apa itu Self Branding?
Self Branding adalah presepsi yang orang lihat dalam diri kita dan juga apa yang kita lihat dari diri kita sendiri. Self Branding juga bisa disebut sebagai cara kita mempromosikan diri kita sendiri. Self Branding beda ya dengan pencitraan. Kalo pencitraan, lo akan cenderung Fake untuk menunjukkan kesan yang ada pada diri lo. Tapi Self Branding menunjukkan apa adanya lo dan kecerdasan yang bener-bener lo punya.
Menunjukkan kualitas diri. Nah itu kuncinya.

1. SENYUM
Senyum sengaja gue taro di atas karena senyum adalah aspek paling penting dalam berkomunikasi. Pada saat lo bertemu klien, ucapkan “Halo” dengan senyuman. Percayalah, sepinter apapun lo, sebesar apapun usaha yang lo geluti, jika pada saat ketemu klien atau pihak ketiga lo ga senyum, lo tidak akan mendapatkan kesan pertama yang baik. Membangun kesan pertama yang bagus itu penting untuk membuat suasana rileks. Lo juga jadi lebih rileks, si klien juga jadi lebih rileks, sehingga obrolan yang nantinya akan tercipta akan lebih enjoy dan ga kaku. Oke? Inget, meski mungkin biasanya lo jutek di kehidupan sehari-hari (kaya gue), atau lu lagi badmood parah, abis marah-marah, atau abis nangis, lo harus tetep senyum di depan klien.

Senyum yang gue maksud disini bukan senyum sinis ya hehe. Senyum yang ceria, senyum happy lo. Senyum good mood lo. Lo harus mampu menunjukkan kesan kepada klien bahwa “saya senang bertemu anda” lewat senyuman. Meski grogi, jangan pernah lupa senyum. 

2. RAMAH
Pada saat ketemu, banyak orang yang begitu terburu-buru untuk berbicara langsung kepada intinya sehingga lupa beramah tamah. Eits, ramah merupakan bagian dari attitude juga loh. Misal nih, si klien telat dateng, lo harus tanya “tadi macet ya mbak di jalan?” atau semisal lu ketemuan di kafe, lu pesenin dia minum atau panggilin pelayan, lu basa-basi dulu lah tanya “apa kabar” kek apa kek.
Ramah, mengindikasikan bahwa lu care terhadap klien lo.
Lo bukan hanya mau bekerjasama secara bisnis, tapi lo juga mau tau siapa sih klien lo ini. Apa yang dia lakukan, apa yang dia pikirkan, sehingga ketika klien lu tau lu orang yang care, dia akan lebih terbuka sama lo.

3. TENANG
Pada saat ketemu klien (apalagi bagi lo yang baru pertama kali ditugasin ketemu pihak ketiga), lo jangan pernah grogi dan ngomong lo jadi belepotan. Pertama, lo bakalan ga enak di dengerin si klien, lo akan panik begitu menyadari bahwa diri lo ga tenang sehingga memicu kesalahan-kesalahan berikutnya dan yang paling parah, informasi lo jadi ga sampe. Dia pasti bakalan mikir “ngomong apaan sih ni orang belibet” dan kemudian, karena lo terus melakukan kesalahan karena lo menyadari kalo lo ngomong blepotan, dia jadi males dengerin dan ga minat sama apa yang lo tawarkan.
Ok? Tenang. Lo bebas kok ketawa atau becanda saat urusan bisnis, asal ga melenceng.

4. ON POINT
Yang gue maksud dengan on point disini adalah urusan bisnis lo. Jangan muter-muter ga jelas pada saat menjelaskan bisnis yang lo tawarkan. Lo harus memiliki kemampuan jual produk yang bagus disini, marketing. Pernah liat kan SPG yang ogah-ogahan nawarin baju sama SPG yang giat banget bantu costumer nya sampe-sampe dia memberikan pendapat terhadap baju yang kita pilih?
Itu adalah orang yang baik dalam marketing dan langsung on point.
Dalam kepala SPG itu adalah “gue harus menjual produk ini”, otomatis dia akan mengerahkan segalanya agar produknya dibeli.
Lo, mau apapun bisnis lo. Mau dagang kek, mau wedding organizer kek, event organizer kek, mo nyelenggarain hajatan kampung kek, lu harus tetep bisa on point.
Pertama, klien lo tentu pasti ga suka yang namanya kebanyakan basa-basi. Kedua, lo akan lebih menghemat waktu dan tenaga. Ketiga, klien lo akan lebih antusias semisal lu berbicara yang jelas dan ga muter-muter.

5. ANTUSIAS
Meski lo adalah orang yang menawarkan produk atau kerjasama bisnis, bukan berarti lu bebas dari yang namanya tanggung jawab untuk menjadi antusias. Pada saat menawarkan produk atau menawarkan kerjasama bisnis, tentunya klien akan merespon. Responnya ini bisa macem-macem. Bisa positif, bisa negative.
Apabila dia responnya positif, jangan terlalu senang dulu. Biasanya, ketika tau kliennya responnya positif, banyak orang yang lupa untuk memperhatikan detail. Jangan sampe, ketika dia udah respin positif, lo ga tanya-tanya lagi, sehingga pada saat tau detailnya, dia malah berbalik mundur.
Contohnya? Misalnya lu jualan baju nih. Lu udah promosi nih baju bahannya enak, modis dan lain-lain. Si klien suka, lo jangan langsung “yes dapet untung” dulu. Lo tanya dulu misalnya “bu, ibu biasanya suka bahan yang kek gimana? Yang ga panas atau yang ga susah di cuci mungkin?” atau “ibu mau baju ini bu? Anak ibu perempuan atau laki-laki? Kalau laki-laki biasanya suka warna yang ini loh bu”
Jadi ketika lo detail, si klien ini juga akan lebih detail memperhatikan langkah yang dia ambil diawal.

Kalo respon klien lu negatif, lo jangan langsung diem dan berubah jadi jutek.
Lo harus tanya alasan si klien, apa yang sebenernya dia inginkan, apa yang sebenernya dia butuhkan dan kalau perlu lu minta kritik buat produk atau tawaran kerjasama gapapa. Pada saat klien lo tau lo orang yang loyal terhadap pekerjaan dan ga gengsi untuk menanyakan alasan si klien, lo akan dinilai sebagai orang yang antusias dan selalu ingin berjuang.

6. BILANG TERIMAKASIH
Pada saat lo selesai meet up dengan klien lo. Jangan cuek dong, ucapkan terimakasih. Terlepas dari positif atau ga nya respon dia, lo harus tetep jadi orang yang care dan berterimakasih. Karena dengan ucapan itu mengindikasikan bahwa lo menghargai klien lo.
Berterimakasih itu bukan terimakasih ogah-ogahan dengan  muka jutek ya. Lo harus tetep senyum dan TIDAK LEBAY.
Nah ini, jangan pernah berterimakasih terlalu berlebihan atau nantinya lo akan di cap sebagai orang yang hiperbola. Berterimakasih pada porsinya aja, tapi tetep ramah dan disertai dengan senyuman.

Nah itu tadi deh beberapa cara yang umum digunakan yang bisa menyelamatkan lo ketika bertemu klien. Sebetulnya banyak banget cara yang bisa membuat kesan pertama klien lo itu berhasil, tapi untuk kali ini, gue share segitu dulu deh.

Inget ya, meski kita bukan sales atau ga berdiri di perusahan marketing, tapi tetep, ilmu marketing itu kepakai dimana-mana, bahkan gue aja yang kuliahnya bukan marketing tetep harus tau ilmu-ilmu marketing terutama cara komunikasi yang baik pada saat kita menjual produk atau menawarkan kerja sama bisnis kita. 

1 comment:

A call-to-action text Contact us